This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Wednesday, 6 September 2017
Nasionalisme timbul dari diri kita sendiri,
Nasionalisasi harus dibedakan dari sosialisasi,
Nasionalisasi bisa terjadi dengan atau tanpa kompensasi terhadap pemilik sebelumnya. Nasionalisasi terpisah dari redistribusi properti dalam bahwa pemerintah menahan kendali dari properti yang dinasionalisasi. Beberapa nasionalisasi terjadi saat pemerintah mengambil alih properti yang diambil secara tidak legal. Contohnya, di tahun 1945 pemerintah Perancis mengambil alih perusahaan pembuat mobil Renault karena pemiliknya telah melakukan kolaborasi dengan pemerintah pendudukan Nazi.
Nasionalisasi harus dibedakan dari sosialisasi, yang tertuju kepada proses merestrukturisasi kerangka kerja ekonomi, struktur organisasi, dan institusi dari perekonomian dalam basis sosialis. Nasionalisasi tidak selamanya mengandung arti kepemilikan sosial dan restrukturisasi dari sistem ekonomi. Nasionalisasi tidak memiliki hubungan apapun dengan sosialisme.
Industri-industri yang dinasionalisasi, berkewajiban untuk beroperasi demi kepentingan publik, mungkin berada di bawah tekanan politik dan sosial yang kuat untuk memberi lebih banyak perhatian terhadap eksternalitas. Mereka mungkin harus melakukan kegiatan operasional yang merugi dimana manfaat sosial adalah lebih besar daripada biaya sosial, contohnya adalah jasa pengiriman pos dan transportasi. Pemerintah telah memahami kewajiban sosial ini dan dalam beberapa kasus menyediakan subsidi untuk operasional usaha nonkomersial tersebut.
Oleh karena industri-industri yang dinasionalisasi adalah dimiliki oleh negara, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menanggung segala utang. Jika mereka menguntungkan, maka keuntungannya seringkali digunakan untuk membiayai layanan negara lainnya, seperti misalnya program-program sosial dan riset pemerintah, yang bisa membantu dalam menurunkan beban pajak.




